Kesenjangan Keamanan Digital Antara Pengguna iPhone dan Android

Saat ini di seluruh dunia, sistem operasi ponsel pintar terbanyak digunakan adalah Android dan iOS. iOS dibuat oleh Apple, sedangkan Android dibuat oleh Google.

Pada tahun 2016, seluruh dunia cukup dihebohkan mengenai sengketa hukum antara FBI dan juga Apple. Seperti yang kita semua tahu, Apple telah membangun fitur keamanan di setiap produknya untuk melindungi data pengguna iPhone dan juga iPad. Hal ini dapat diartikan bahwa siapapun selain pemilik perangkat tersebut, tidak akan bisa mengakses perangkat tersebut, termasuk peretas dan pemerintah.

Bagi pengguna Apple, ini adalah hal yang sangat menguntungkan. Walaupun merogoh kantong lebih dalam, tapi privasi dan keamanan mereka tetap terjaga dan tidak akan bisa diakses oleh orang lain. Apple dengan sadar telah memutuskan untuk keluar dari bisnis pengawasan. Tindakan ini tentu sangat menggangu pemerintah, sebab Apple telah membuat pengawasan menjadi sesulit mungkin bagi pemerintah.

Apple sendiri telah menghabiskan banyak waktu dan tentunya uang untuk memastikan setiap produk mereka seaman mungkin. Secara otomatis Apple mengenkripsi semua data yang tersimpan di dalam iPhone, layanan panggilan dan juga layanan pesan singkat pengguna Apple.

Itu sebabnya kemudian terjadi sengketa hukum antara Apple dan FBI. Sengketa ini dimulai setelah serangan teroris pada Desember 2015 di San Bernardino, California, menewaskan 14 orang dan melukai 22 orang. Kedua pelaku penyerangan itu kemudian dinyatakan tewas dalam baku tembak dengan polisi, namun sebelum tewas mereka menghancurkan ponsel pribadi mereka. Setelah berhasil melakukan recovery, FBI mengirimkan permintaan ke Apple untuk membantu mereka membuka ponsel pintar teroris tersebut yang masih dalam keadaan terkunci.

Sebab perangkat iPhone milik teroris tersebut masih terkunci dan dilindundi oleh 4 digit passcode dan secara default perangkat akan menghapus semua datanya setelah 10 kali percobaan gagal. Namun kemudian Apple menolak permintaan dari FBI dan sidang sengketa hukum FBI dan Apple ini dijadwalkan akan dilaksanakan di tanggal 22 Maret. Namun sehari sebelum sidang, pemerintah memperoleh permintaan penundaan dari pihak FBI, mereka mengklaim telah menemukan pihak ketiga yang dapat membantu membuka passcode iPhone teroris tersebut.

Pada tanggal 28 Maret, FBI mengumumkan bahwa iPhone milik teroris tersebut sudah berhasil dibuka namun ponsel tersebut hanya memiliki informasi tentang pekerjaan dan tidak mengungkapkan rencana apapun pada peristiwa penyerangan pada Desember 2015 tersebut.

Dapat diartikan jika polisi menyita sebuah iPhone dan menggunakan kata sandi 4 digit ataupun 6 digit, mereka akan kesulitan untuk mendapatkan data dari iPhone tersebut bahkan tidak bisa sama sekali. Sebaliknya, sistem keamanan Android tidak sebagus itu. Kebanyakan ponsel pintar Android yang dijual di pasaran tidak secara otomatis mengenkripsi data yang tersimpan di dalam ponsel dan aplikasi default sms di ponsel Android yang terpasang juga tidak menggunakan enkripsi untuk setiap pesan dan panggilan. Jika polisi menyita sebuah ponsel Android, mereka dengan mudah akan mendapatkan semua data yang mereka inginkan dari perangkat tersebut.

Dua ponsel pintar dari dua perusahaan terbesar di dunia; yang satu melindungi secara otomatis dan satunya tidak.

Apple memang terkenal menjual ponsel pintar buatan mereka dengan harga yang mahal. Mereka mendominasi pangsa pasar kelas atas. Sebaliknya, Android lebih mendominasi di pangsa kelas menengah dan bawah. Di Indonesia sendiri, pengguna Android lebih mendominasi dibandingkan pengguna iPhone.

Ketika Android lebih mendominasi, disinilah kemudian terjadi “Kesenjangan Keamanan Digital.” Artinya, terdapat kesenjangan antara privasi kelompok kalangan atas yang bisa memiliki perangkat yang secara otomatis mengamankan data ponsel pintar mereka dan kelompok kalangan menengah dan bawah yang perangkatnya tidak melindungi mereka secara otomatis.

Kita harus ingat bahwa pengawasan oleh pemerintah atau pihak lainnya seringkali dijadikan sebuah alat. Alat yang digunakan oleh penguasa terhadap mereka yang tidak memiliki kuasa. Sungguh bagus ketika perusahaan seperti Apple mempermudah orang-orang mengenkripsi data mereka, namun jika yang mampu melindungi diri mereka dari pemerintah hanyalah kelompok kalangan atas, ini adalah sebuah masalah. Bukan hanya masalah privasi atau masalah kemanan digital. Ini adalah masalah hak sipil.

Kurangnya standar keamanan pada Android bukan hanya masalah bagi kelompok menengah dan juga menengah ke bawah yang bergantung pada perangkat tersebut. Ini adalah masalah bagi demokrasi kita semua.

Contohnya, banyak gerakan sosial di Indonesia yang bergantung dengan teknologi. Pengurus dan anggota gerakan sosial sering berkomunikasi dan berkoordinasi melalui ponsel pintar mereka. Ketika pemerintah merasa terancam dengan gerakan sosial ini, mereka akan memperhatikan dan mengawasi para aktivis ini dan ponsel pintar mereka. Mungkin saja seorang Martin Luther King atau Mandela atau Gandhi di masa depan akan memiliki sebuah iPhone dan terhindar dari pengawasan pemerintah. Tapi kemungkinan lainnya mereka akan menggunakan ponsel Android karena harganya yang lebih murah dibandingkan iPhone.

Jika kita tidak melakukan apapun untuk menanggapi kesenjangan kemanan digital, jika kita tidak melakukan apa pun untuk memastikan semua orang merasakan keuntungan yang sama dari enkripsi dan sama-sama mampu melindungi diri dari pengawasan oleh pemertintah, pengawasan mungkin tidak hanya akan menyasar kelompok rentan ataupun kelompok kalangan menengah dan bawah, tapi pergerakan hak sipil di masa depan pun akan dipatahkan sebelum mereka mencapai potensi penuh mereka.

Saran saya untuk penutup, cukup gunakan aplikasi chatting Telegram, sebuah layanan mengirim pesan dan layanan panggilan yang secara default telah menggunakan fitur end-to-end encryption.

Sign Up for Our Newsletters

Get the recent Newsly updates to your mailbox.

You May Also Like

Hacker, Dipenjarakan atau Dipekerjakan?

Beberapa tahun belakangan ini, banyak di berbagai media online memberitakan sekumpulan remaja…

Sudah Siapkah Startup di Indonesia akan Serangan Cyber Fraud?

Seringkali ketika menjumpai CTO (Chief Technology Officer) dari berbagai startup di Indonesia, yang…

Kasus Pencurian Kartu Kredit di Indonesia dan Objek Kambing Hitam yang Keliru

Mengutip dari Wikipedia, Sistem kartu kredit adalah suatu jenis penyelesaian transaksi ritel (retail)…

Pelaku Cyber Fraud di Indonesia yang Didominasi oleh Usia Muda

Sejak tahun 2010, saya tergabung di berbagai komunitas underground di Indonesia. Sebagian…