Presiden Prabowo Minta Kajian WFH dan Pengurangan Hari Kerja untuk Tekan Konsumsi BBM

0
11
Presiden Prabowo Minta Kajian WFH dan Pengurangan Hari Kerja untuk Tekan Konsumsi BBM. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Spoiler.id – Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran kabinet mengkaji skenario penerapan kerja dari rumah atau work from home (WFH) serta pengurangan hari kerja guna menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah potensi gejolak harga energi global.

Permintaan tersebut disampaikan Presiden saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada Jumat (13/3/2026).

“Kita bersyukur kita aman, tetapi kita juga harus tetap berupaya mengurangi konsumsi BBM kita,” kata Presiden Prabowo.

Menurut dia, langkah tersebut perlu dikaji sebagai langkah antisipasi apabila terjadi krisis ekonomi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah dan berdampak pada lonjakan harga minyak dunia.

Kenaikan harga energi, kata Presiden, berpotensi memengaruhi berbagai sektor, termasuk kenaikan harga bahan pangan yang dapat berdampak pada perekonomian nasional.

Ia mengingatkan seluruh jajaran pemerintah agar tidak merasa terlalu aman tanpa kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan.

“Tapi tentunya kita juga sekarang harus melakukan langkah-langkah yang proaktif,” ujarnya.

Presiden juga mencontohkan kebijakan yang telah diambil pemerintah Pakistan dalam merespons situasi ekonomi global yang dinilai semakin menantang. Negara tersebut menerapkan sejumlah kebijakan penghematan, mulai dari pengurangan gaji pejabat negara dan anggota parlemen, pembatasan penggunaan kendaraan dinas, hingga penerapan WFH dan pengurangan hari kerja.

Menurut Prabowo, Indonesia pernah memiliki pengalaman serupa saat menghadapi krisis akibat pandemi COVID-19, di mana kebijakan bekerja dari rumah mampu membantu efisiensi penggunaan energi.

“Dulu kita atasi COVID, dan kita berhasil. Kita mampu banyak bekerja dari rumah dengan efisien. Artinya, kita menghemat BBM dalam jumlah yang sangat besar,” ujarnya.

Lebih lanjut, kepala negara menegaskan pemerintah tidak boleh lengah menghadapi situasi global yang dinamis dan harus menyiapkan berbagai langkah antisipasi.

“Kita tidak panik, tetapi kita juga tidak boleh terlalu lengah,” tegasnya.

Diketahui, konflik yang melibatkan Iran melawan Israel dan United States turut memengaruhi stabilitas jalur perdagangan energi dunia. Gangguan pada lalu lintas di Selat Hormuz yang merupakan jalur utama perdagangan minyak negara-negara Teluk menyebabkan lonjakan harga minyak global.

Harga minyak dunia yang sebelumnya berada di kisaran 60 dolar AS per barel melonjak hingga sekitar 115 dolar AS per barel. Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah WTI saat ini berada di level sekitar 98,71 dolar AS per barel.

Sementara itu, dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah mengasumsikan harga minyak mentah sebesar 70 dolar AS per barel. Dengan demikian, lonjakan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan beban anggaran negara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here