Jakarta, Spoiler.id – Narasi yang belakangan santer digaungkan sebagian kalangan politik menyebut kemenangan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2024 tidak mungkin terjadi tanpa dukungan Joko Widodo dan kehadiran Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres. Klaim itu berulang-ulang digaungkan hingga seolah menjadi kebenaran baru: kemenangan Prabowo adalah “warisan Jokowi”.
Pandangan tersebut makin menguat setelah Presiden Prabowo mencopot sejumlah menteri, termasuk Budi Arie. Namun, jika menilik data elektoral dari tiga pilpres terakhir, klaim tersebut tampak lebih menyerupai ilusi politik ketimbang kenyataan.
Investasi suara jangka panjang
Pada Pilpres 2014, pasangan Jokowi–Jusuf Kalla menang dengan 53,13 persen suara, sementara Prabowo–Hatta meraih 46,84 persen. Pola serupa terjadi pada Pilpres 2019, Jokowi–Ma’ruf Amin memperoleh 55,50 persen, Prabowo–Sandiaga Uno 44,50 persen. Artinya, sejak 2014 hingga 2019, Prabowo konsisten memiliki basis dukungan permanen di atas 44 persen.
Lonjakan baru terjadi pada 2024, ketika Prabowo–Gibran mengumpulkan 58,59 persen suara. Selisih sekitar 14 persen dari capaian 2019 kerap diklaim sebagai “efek Jokowi–Gibran”. Padahal, menurut teori politik elektoral, kemenangan kandidat tidak ditentukan satu faktor tunggal, melainkan kombinasi antara modal politik jangka panjang dan konteks politik yang melingkupinya.
Efek Jokowi bukan faktor utama
Fakta Pemilu Legislatif 2024 memperlihatkan loyalitas pemilih tidak otomatis berpindah hanya karena Jokowi. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mengusung slogan “Partai Jokowi” justru gagal menembus ambang batas parlemen. Sebaliknya, PDIP yang berseberangan dengan Jokowi tetap menjadi pemenang pemilu legislatif dengan 16,73 persen suara.
Hal itu menunjukkan bahwa personal vote Jokowi memang kuat, tetapi tidak serta-merta bisa ditransfer kepada partai atau tokoh lain. Konsep ini relevan dengan teori personalism in politics yang menyatakan dukungan karismatik seorang pemimpin tidak selalu berlanjut ketika konteks berubah.
Ekosistem politik 2024
Selain faktor Jokowi, ekosistem politik juga ikut memengaruhi kemenangan Prabowo. Putusan Mahkamah Konstitusi yang membuka jalan bagi Gibran maju sebagai cawapres, distribusi bansos, serta dukungan administratif turut memperkuat posisi Prabowo. Namun, semua itu tetaplah faktor penguat, bukan penentu utama.
Tanpa basis dukungan permanen lebih dari 44 persen sejak 2014, tambahan suara 14 persen tidak akan cukup mengantar kemenangan telak Prabowo pada 2024. Konsistensi pencalonan tiga kali dan loyalitas pemilih yang relatif stabil menjadi modal politik jangka panjang yang tidak dimiliki rivalnya, Anies maupun Ganjar.
Kesimpulan
Klaim bahwa Prabowo menang hanya karena “warisan Jokowi” jelas berlebihan. Dukungan Jokowi dan Gibran memang memberi dorongan, tetapi kemenangan 2024 tetap bertumpu pada investasi suara permanen Prabowo sejak 2014. Politik Indonesia selalu penuh kejutan, tetapi fakta elektoral menegaskan: kemenangan besar lahir dari kesabaran menanam modal politik jangka panjang, bukan sekadar menempel pada kekuasaan sesaat.
Pewarta: Restu Edi
Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © SPOILER 2025
















































