
Bengkulu, Spoiler.id– Puluhan mahasiswa dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bengkulu menggelar aksi simbolik di depan Gedung DPRD Provinsi Bengkulu, Jumat (25/7), menyuarakan berbagai tuntutan dalam aksi bertajuk “Indonesia (C)emas: Menghadapi Bayang-bayang Kegelapan Indonesia.”

Aksi yang dimulai pukul 14.45 WIB ini melibatkan sekitar 50 mahasiswa dari berbagai kampus di Provinsi Bengkulu.
Koordinator Daerah BEM SI Bengkulu, Kelvin Malindo, menyatakan aksi ini merupakan bentuk kegelisahan mahasiswa atas situasi sosial-politik dan hukum yang dinilai makin menjauh dari nilai-nilai keadilan.
“Kami datang untuk menyuarakan keresahan rakyat, bukan sekadar teatrikal. Kami menuntut agar aspirasi ini diteruskan ke DPR RI secara resmi,” kata Kelvin.
Aksi sempat memanas saat mahasiswa ditolak masuk ke halaman gedung DPRD. Ketegangan meningkat ketika massa membakar ban bekas di tengah Jalan Asahan, yang segera dipadamkan oleh aparat Polresta Bengkulu demi alasan keselamatan pengguna jalan.
Husin A. Sembiring, Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, bersama Ketua Bapemperda DPRD M. Ali Saftaini akhirnya menemui massa dan menggelar “parlemen jalanan”.
“Kami siap menyampaikan tuntutan mahasiswa ke DPR RI. Masalah tempat bukan soal utama, yang penting substansinya sampai. Kami juga siap menandatangani pernyataan sikap ini bersama,” ujar Husin.
Sementara itu, Muhammad Rabil Fahri, Wakil Presiden Mahasiswa UNIB, mempertanyakan minimnya keterlibatan anggota DPRD dalam mendengar aspirasi publik.
“Kenapa hanya dua orang dewan yang menemui kami? Ini bukan bentuk penghargaan terhadap rakyat. Kami menuntut keseriusan dan integritas,” tegasnya.
Dalam pernyataan sikap yang disampaikan dan diserahkan secara resmi, mahasiswa menyuarakan enam poin tuntutan utama:
- Menolak pengaburan sejarah dan mendorong pendidikan sejarah yang akurat dan bertanggung jawab.
- Mendesak revisi pasal bermasalah dalam RUU KUHAP serta percepatan pembahasan RUU Perampasan Aset.
- Menuntut keterbukaan pemerintah soal perjanjian bilateral dan kebijakan ekonomi strategis.
- Menolak aktivitas LGBT yang dinilai bertentangan dengan norma keagamaan serta mendorong regulasi tegas.
- Mendesak pelaksanaan putusan MK terkait larangan rangkap jabatan, terutama bagi wakil menteri.
- Menolak represi terhadap kebebasan sipil dan mendesak pencabutan UU TNI.
Aksi simbolik yang digelar Aliansi BEM Bengkulu ini menjadi cerminan kekhawatiran generasi muda terhadap arah kebijakan nasional yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan rakyat. Dengan membawa enam poin tuntutan utama, mahasiswa berharap suara mereka tidak hanya didengar, tetapi juga ditindaklanjuti secara konkret oleh para wakil rakyat.
Mereka menegaskan, perjuangan ini bukan sekadar bentuk protes, melainkan panggilan moral untuk menjaga demokrasi, keadilan, dan keberpihakan negara terhadap nilai-nilai luhur bangsa.
Pewarta: Restu Edi
Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © SPOILER 2025














































