Pekerja Segel Puluhan Dapur MBG di Bengkulu, Tuntut Pembayaran Upah Jelang Idul Fitri

0
55

Seluma, Spoiler.id – Ratusan pekerja bangunan menyegel puluhan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Bengkulu sebagai bentuk protes atas upah yang belum dibayarkan menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Aksi penyegelan tersebut mencakup sekitar 25 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang tersebar di sejumlah daerah di Bengkulu. Progres pembangunan dapur MBG tersebut diketahui telah mencapai sekitar 80 persen.

Koordinator mandor pekerja, Ahmad Yani (52), mengatakan aksi tersebut dilakukan setelah para pekerja tidak menerima pembayaran upah sejak mulai mengerjakan proyek tersebut sekitar empat minggu terakhir.

“Kalau di Seluma ada dua unit, di Bengkulu Selatan dua unit, dan di Kaur tiga unit,” ujar Ahmad Yani saat ditemui di lokasi, Senin.

Menurut dia, sekitar 200 pekerja bangunan terlibat dalam proyek pembangunan dapur MBG tersebut. Sebagian besar pekerja didatangkan dari Pulau Jawa untuk membantu proses pembangunan.

Para pekerja kemudian menutup akses bangunan sebagai bentuk protes terhadap pihak pelaksana proyek yang hingga kini belum merealisasikan pembayaran upah mereka.

Ahmad Yani menyebutkan total tagihan upah pekerja mencapai sekitar Rp3 miliar. Namun, para pekerja hanya meminta pembayaran sebesar Rp1,7 miliar sebagai kebutuhan mendesak, terutama untuk biaya pulang kampung menjelang Idul Fitri.

“Apa yang mau kami bawa pulang untuk keluarga nanti,” kata Ahmad Yani.

Ia mengatakan aksi penyegelan tersebut juga menjadi bentuk kekecewaan para pekerja sekaligus permintaan kepastian dari pihak perusahaan terkait pembayaran upah yang tertunda.

Para pekerja menyatakan bersedia membuka kembali segel bangunan dan melanjutkan pekerjaan apabila pembayaran upah mereka direalisasikan oleh pihak perusahaan.

Sementara itu, kontraktor pelaksana proyek PT Adi Karya diketahui telah menyiapkan fasilitas transportasi berupa bus Putra Rafflesia untuk kepulangan pekerja ke Pulau Jawa. Namun sebagian pekerja memilih tetap bertahan di Bengkulu dan menolak pulang sebelum hak mereka dibayarkan.

Salah seorang pekerja bahkan mengaku tidak dapat pulang ke kampung halaman ketika istrinya meninggal dunia karena tidak memiliki biaya perjalanan akibat upah yang belum diterima.

“Bapak itu kasihan lihatnya, istrinya meninggal tak bisa pulang karena gaji belum dibayar,” ujar salah satu pekerja.

Hingga kini para pekerja masih menunggu kejelasan dari pihak perusahaan terkait pembayaran upah mereka, sementara kebutuhan keluarga menjelang Idul Fitri semakin mendesak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here