MAPEL Soroti Kematian Gajah dan Harimau Sumatera, Minta Pemerintah Bengkulu Usut Kerusakan Hutan

0
7
Sekretaris Umum Dewan Eksekutif Nasional Yayasan Mapel Indonesia, Nanang Ardiansyah Lubis. (Foto: Restu Edi/Spoiler.id)

Bengkulu, Spoiler.id – Sekretaris Umum Dewan Eksekutif Nasional Yayasan Masyarakat Peduli Lingkungan (Mapel) Indonesia, Nanang Ardiansyah Lubis, dalam kunjungan dan silaturahmi dengan Mapel Bengkulu menyoroti terkait kerusakan lingkungan di provinsi Bengkulu khususnya kerusakan hutan lindung yang ada di Kabupaten Mukomuko yang akhirnya berdampak pada matinya hewan dilindungi gajah Sumatera dan Harimau Sumatera di Kabupaten Mukomuko.

“Pihaknya terus mengawal serius kasus kematian dua ekor gajah dan satu harimau Sumatera yang ditemukan di wilayah Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu,” pungkas Nanang.

Menurutnya, temuan tersebut telah mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH), yang turun langsung melakukan investigasi di lokasi. Seluruh hasil temuan di lapangan, menurutnya, dilaporkan secara berjenjang hingga ke kementerian bahkan Presiden Republik Indonesia.

“Mapel lakukan selalu menjadi data dan informasi penting bagi pemerintahn terkait permasalahan lingkungan sehingga kita dapat sama-sama menjaga alam kita,” ucapnya.

Mapel berkomitmen merespons setiap persoalan lingkungan dan satwa secara nasional, termasuk kasus-kasus yang terjadi di luar Bengkulu.

“Penyebab kematian gajah dan harimau di Mukomuko belum bisa disimpulkan hanya sebagai akibat peracunan. Hal ini karena kondisi fisik bangkai satwa menunjukkan indikasi kuat adanya kerusakan habitat yang menyebabkan satwa kehilangan sumber pangan atau kelaparan”, ungkap Nanang.

“Kalau melihat kondisi bangkai gajah dan harimau yang ditemukan, tubuhnya tidak ideal. Bisa jadi mereka mati karena kelaparan akibat habitat dan ekosistemnya rusak,” tuturnya.

Nanang menambahkan, aktivitas perambahan hutan dan dugaan keterlibatan perusahaan pemegang izin di sekitar kawasan hutan produksi juga perlu ditelusuri secara objektif. Ia menilai investigasi menyeluruh penting dilakukan untuk memastikan apakah kerusakan kawasan berkontribusi terhadap terganggunya jalur hidup satwa liar di Bentang Alam Seblat.

“Faktor kerusakan habitat harus dicocokkan dengan kondisi lapangan. Satgas dari pusat sudah bekerja penuh di lapangan bersama Forkopimda. Ini tidak bisa disamakan dengan kasus kriminal biasa karena membutuhkan penelitian mendalam,” kata dia.

Diketahui, dua bangkai gajah Sumatera terdiri dari induk betina berusia sekitar 25 tahun dan anak jantan berusia sekitar dua tahun ditemukan membusuk di kawasan Hutan Produksi Terbatas Air Teramang pada akhir April 2026. Sementara seekor harimau Sumatera ditemukan mati di aliran sungai Desa Bukit Makmur, Kecamatan Penarik, sekitar 32 kilometer dari lokasi penemuan gajah.

Kasus ini menambah daftar ancaman serius terhadap keberlangsungan satwa liar Bengkulu, khususnya di kawasan Bentang Alam Seblat yang selama ini dikenal sebagai salah satu habitat penting gajah dan harimau Sumatera. Mapel mendesak pemerintah memastikan perlindungan kawasan hutan berjalan efektif demi mencegah kematian satwa dilindungi terus berulang.

Sekretaris Umum Nasional Mapel Indonesia, Nanang Ardiansyah Lubis bersama Ketua Mapel Bengkulu, Kasrul Pardede melakukan penanaman pohon.

Tidak hanya Fokus terkait permasalahan kerusakan hutan lindung, Mapel Bengkulu sebagai langkah utama telah mengajak masyarakat Provinsi memulai aksi nyata menjaga lingkungan salah satunya melakukan penanaman atau reboisasi dilokasi-lokasi yang rawan terjadinya ancaman bencana seperti Daerah Aliran Sungai (DAS) yang banyak mengalami kerusakan di wilayah Provinsi Bengkulu.

Mapel mengajak masyarakat mulai peka terhadap kerusakan lingkungan, dan mengajak masyarakat melakukan penanaman 1 pohon 1 orang demi menjaga alam tetap hijau dan terhindar dari bahaya bencana alam seperti Banir, Tanah Longsor dan lain sebagai nya seperti hal nya yang terlah terjadi menimpa provinsi tetangga di Pulau Sumatera.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here