Ancaman Teror dan Pentingnya Literasi Kritis di Era Media Sosial

0
65
Polda Metro Jaya menampilkan deretan barang bukti kasus ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta. (Foto: Istimewa)

Spoiler.id – Perkembangan masyarakat digital menunjukkan bahwa pelaku teror bukan lagi identik dengan kelompok yang terikat ideologi ekstrem ataupun jaringan radikal transnasional. Pada masa kini, pelaku teror bisa saja berasal dari kalangan remaja yang belajar secara mandiri melalui berbagai konten di media sosial.

Insiden peledakan di Masjid SMAN 72 Jakarta pada Jumat, 7 November 2025, memperlihatkan perubahan pola tersebut. Pelaku yang masih berusia belia menjadi contoh tentang bagaimana generasi muda dapat terpengaruh oleh konten yang mempromosikan kekerasan. Peristiwa itu memicu diskusi luas mengenai fenomena terorisme belia dan faktor-faktor yang memengaruhi pola pikir mereka.

Sebanyak 96 orang menjadi korban dalam peristiwa tersebut, beberapa bahkan sempat dirawat secara intensif. Meski tidak ada korban jiwa, insiden itu menimbulkan kecemasan publik tentang bagaimana remaja dapat terseret arus kekerasan yang beredar bebas di ruang digital.

Media sosial kini menjadi platform yang memungkinkan setiap orang berinteraksi, memproduksi, dan menyebarkan konten dalam jumlah masif. Konten yang bermuatan kekerasan atau intoleransi dapat tersebar dengan cepat dan menjangkau pengguna yang rentan, termasuk remaja. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa penyebaran konten intoleran di media sosial berpotensi memengaruhi pembentukan opini publik dan perilaku sosial.

Teori identitas sosial menerangkan bahwa individu membangun identitasnya melalui kelompok yang mereka ikuti. Ketika lingkungan digital mereka dipenuhi kelompok atau pesan intoleran, maka risiko terpengaruh meningkat. Faktor lain yang turut memengaruhi ialah rendahnya literasi digital, interaksi dengan kelompok yang intoleran, serta penggunaan media sosial secara berlebihan.

Di era informasi, publik tidak lagi sekadar menjadi penerima pesan, tetapi turut berpartisipasi dalam memproduksi konten. Pada titik inilah penyebaran informasi kekerasan lebih mudah terjadi dan lebih cepat memengaruhi perilaku sosial anak muda. Studi terbaru menunjukkan bahwa generasi Z yang memiliki intensitas tinggi menggunakan media sosial rentan terseret arus konten kekerasan dan intoleransi. Sebagian remaja hanya mengakses lalu menghapus, namun sebagian lainnya justru ikut menyebarkan kepada pengguna lain.

Penelitian lain menunjukkan bahwa ujaran kebencian di media sosial banyak menargetkan kelompok berbasis gender, etnis, agama, orientasi seksual, hingga penyandang disabilitas. Dalam konteks global, intensitas ujaran kebencian meningkat seiring dengan tingginya penetrasi internet, sementara partisipasi digital yang sehat justru mampu menjadi benteng untuk mengurangi dampaknya.

Kemampuan literasi kritis menjadi faktor penting dalam menghadapi banjir informasi. Netizen yang memiliki kemampuan literasi kritis dapat menganalisis pesan, memeriksa kembali sumber, dan memahami konteks sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Sebaliknya, mereka yang minim literasi kritis mudah terpengaruh dan menerima mentah-mentah pesan intoleran yang ditemukan di media sosial.

Generasi Z sebagai pengguna terbesar media sosial menjadi kelompok yang paling rawan terpapar pengaruh buruk ruang digital. Tanpa dukungan edukasi, pembinaan keluarga, dan pengawasan sekolah, tidak menutup kemungkinan mereka akan terperangkap dalam konten yang mempromosikan kekerasan dan intoleransi.

Kasus peledakan di SMAN 72 Jakarta menjadi pengingat bahwa ruang digital aman bagi anak dan remaja merupakan kebutuhan mendesak. Remaja yang tampak pendiam sekalipun dapat terpapar konten ekstrem jika dibiarkan tanpa pendampingan. Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat bahwa literasi kritis adalah tameng utama untuk menghadapi arus informasi digital yang semakin kompleks.

Oleh: Bagong Suyanto Guru Besar FISIP Universitas Airlangga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here