Ketika Budaya Malu Absen dari Kepemimpinan

0
100
Al Makin, guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Spoiler.id – Dalam panggung kepemimpinan bangsa, rasa malu kian jarang dipertontonkan. Malu absen, baik di panggung depan maupun panggung belakang. Para pemimpin seakan kehilangan keteladanan untuk mengakui kesalahan, bertanggung jawab, bahkan mundur secara terhormat ketika gagal.

Yang terjadi justru sebaliknya: diam, isu dialihkan, dan kesalahan dibenarkan. Kekuasaan ditempatkan lebih tinggi daripada moral, hingga rasa malu dianggap sebagai kelemahan, bukan cerminan integritas.

Di negara-negara maju, rasa malu menjadi penanda moral. Menteri di Jepang mundur hanya karena salah ucap, pejabat di Korea Selatan dipaksa turun karena skandal, sementara di Eropa, mundur adalah etika politik beradab. Namun di panggung kita, permintaan maaf cukup menjadi tameng, tanpa konsekuensi nyata.

Kepemimpinan tanpa malu melahirkan otoritarianisme, arogansi, dan kehilangan empati. Demokrasi pun berisiko menjadi sekadar basa-basi, tanpa roh dan tanpa martabat.

Sudah waktunya budaya malu dikembalikan sebagai prinsip etis, bukan dianggap aib. Sebab dalam rasa malu terletak harga diri, martabat, dan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap rakyatnya.

Oleh : Al Makin, guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © SPOILER 2025

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here