Refleksi 80 Tahun RI: Bung Karno, Kemerdekaan, dan Semangat Merdeka atau Mati

0
110
Ir. Laksamana Sukardi. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Spoiler.id – Delapan puluh tahun sudah Republik Indonesia berdiri. Dari masa revolusi kemerdekaan hingga era digital saat ini, generasi muda selalu menjadi ujung tombak dalam perjuangan mewujudkan masa depan bangsa. Bedanya, bila dulu slogan “Merdeka atau Mati” menggema di seluruh penjuru Nusantara, kini generasi muda menghadapi kenyataan sosial-ekonomi yang membuat mereka memilih semboyan baru: #KaburAjaDulu.

Slogan legendaris “Merdeka atau Mati” pernah menjadi api perjuangan pemuda Indonesia pada masa revolusi. Tekad mereka sederhana: meraih kemerdekaan meski harus bertaruh nyawa. Namun sesuai ramalan Bung Karno, tantangan generasi setelah merdeka justru lebih berat karena yang dihadapi bukan lagi penjajah, melainkan bangsa sendiri.

Hal itu terbukti pada gerakan Reformasi 1998, ketika pemuda bangkit melawan praktik otoritarianisme demi demokrasi dan keadilan. Saat itu, slogan “reformasi atau mati” seakan menjadi versi baru dari “merdeka atau mati”.

Namun kondisi hari ini menunjukkan wajah berbeda. Generasi muda menghadapi kecemasan baru: sulitnya akses pekerjaan, jurang ketimpangan ekonomi, dan maraknya korupsi yang seolah tak berkesudahan. Fenomena pameran uang hasil mega korupsi di Kejaksaan Agung, misalnya, menambah pesimisme bahwa kesejahteraan sulit diwujudkan di tanah sendiri.

Tak heran, muncul tren di media sosial dengan tagar #KaburAjaDulu. Ekspresi ini menjadi simbol jalan lain untuk mencari “kemerdekaan” melalui peluang di luar negeri. Artinya, generasi muda lebih memilih menyeberangi batas imajiner negara ketimbang berhadapan langsung dengan sistem yang dirasa buntu.

Fenomena ini sesungguhnya tidak terlepas dari realitas ekonomi Indonesia. Menurut data Oxfam dan Credit Suisse, 1 persen penduduk terkaya menguasai hampir 49 persen kekayaan nasional. Penelitian Jeffrey Winters bahkan menyebut kurang dari 0,1 persen penduduk mengendalikan arah kebijakan ekonomi Indonesia. Situasi ini diperburuk oleh fusi antara pengusaha dan penguasa yang membuat jurang ketimpangan semakin lebar.

Ironisnya, Indonesia sebagai negara yang kaya sumber daya alam justru menumbuhkan orang kaya baru dari konsesi tambang atau perkebunan, bukan dari inovasi dan pengembangan sumber daya manusia seperti di negara maju. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang melahirkan perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Apple, atau Microsoft.

Dalam konteks ini, pilihan “kabur” yang diambil sebagian anak muda adalah refleksi frustrasi terhadap sempitnya ruang domestik untuk tumbuh. Mereka ingin mengejar mimpi di luar negeri yang dianggap lebih menjanjikan, ketimbang bertahan dalam sistem yang dirasa tidak berpihak.

Namun, semangat yang mereka bawa sejatinya masih sama dengan generasi 1945: memperjuangkan kehidupan yang lebih baik, hanya saja dengan medan perjuangan yang berbeda. Bila dulu pilihannya “merdeka atau mati”, kini maknanya bergeser menjadi “merdeka tanpa harus mati”.

Pada akhirnya, kita berharap semangat generasi muda untuk mencari masa depan lebih baik tidak selalu harus diwujudkan dengan “kabur”. Suatu saat nanti, slogan baru yang muncul bukan lagi #KaburAjaDulu, melainkan #PulangKampung, ketika Indonesia benar-benar menjadi tempat yang adil, sejahtera, dan membanggakan untuk ditinggali.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Merdeka tanpa harus mati.

Oleh: Ir. Laksamana Sukardi

Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © SPOILER 2025

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here