Menjaga Nasionalisme di Era Digital: Kemerdekaan Sejati di Ujung Jempol

0
95
Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Dr. I Wayan Sudirta, S.H., M.H. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Spoiler.id – Memasuki usia ke-80 tahun kemerdekaan, Indonesia memang bebas dari penjajahan fisik. Namun, pertanyaan mendasar masih menggema: apakah bangsa ini benar-benar merdeka seutuhnya?

Bung Karno pernah mengingatkan, perjuangannya lebih mudah karena melawan penjajah asing, sedangkan generasi kini menghadapi musuh yang lebih sulit, yaitu bangsanya sendiri. Ucapan itu kian relevan di era digital saat arus informasi tak terkendali melahirkan polarisasi sosial, hoaks, ujaran kebencian, hingga krisis identitas.

Era digital membuka ruang kebebasan berekspresi, tetapi tanpa kedewasaan moral, kebebasan itu bisa berubah menjadi bumerang. Masyarakat sering terjebak dalam banjir informasi tanpa makna, sebagaimana digambarkan filsuf Jean Baudrillard tentang simulacra, ketika realitas tergantikan oleh ilusi.

Di tengah kompleksitas tersebut, Pancasila hadir sebagai kompas moral. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan harus menjadi etika bermedia sosial. Pancasila bukan sekadar teks, tetapi “antivirus” menghadapi penyakit digital yang menggerogoti bangsa.

Selain itu, kearifan lokal seperti Tri Hita Karana di Bali hingga nilai Menyama Braya membuktikan betapa budaya bangsa mampu menjadi benteng menghadapi gempuran budaya luar. Antonio Gramsci pernah menegaskan, hegemoni budaya adalah kekuatan utama dalam membentuk masyarakat.

Jika di masa lalu senjata bangsa adalah bambu runcing dan diplomasi, maka kini senjata utama adalah literasi digital dan kemampuan berpikir kritis. Menjadi warga digital yang merdeka berarti mampu menyaring informasi, menolak provokasi, serta memanfaatkan teknologi untuk persatuan dan kemajuan bangsa.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya,” kata Bung Karno. Namun, bangsa yang besar juga adalah bangsa yang mampu menjaga api kemerdekaan di tengah tantangan zaman, termasuk di ruang digital.

Kemerdekaan sejati hanya bisa dicapai bila setiap interaksi—baik nyata maupun maya—dilandasi nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan. Itulah revolusi mental yang sesungguhnya, agar api kemerdekaan tetap menyala di hati setiap anak bangsa.

Oleh : Dr I Wayan Sudirta

Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © SPOILER 2025

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here