
Bengkulu, Spoiler.id – Septian Andriki atau Deki, aktivis lingkungan asal Bengkulu, akhirnya menemukan bunga langka rafflesia hasseltii di kawasan Hiring Batang Somi, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Bunga tersebut disaksikannya mekar pada Rabu malam, 19 November 2025, setelah ia menelusuri rimba Sumatera selama 13 tahun.
Deki memulai pencarian pada 2013, berbekal rasa ingin tahu dan tekad meluruskan pemahaman generasi muda mengenai perbedaan antara rafflesia dan amorphophallus atau bunga bangkai. Ia sebelumnya berprofesi sebagai guru pendidikan jasmani sebelum memilih fokus pada aktivitas eksplorasi dan konservasi.
Ia menuturkan ketertarikannya bermula ketika murid-muridnya sering menyamakan kedua puspa tersebut. “Basic saya guru Penjas. Saya mengabdi tujuh tahun. Dari situ saya merasa perlu melihat langsung habitatnya,” ujarnya saat dihubungi Kamis (20/11/2025).
Eksplorasi kecil bersama kelompok pemuda di daerahnya kemudian berkembang menjadi kegiatan pendampingan warga dan pencatatan habitat rafflesia. Sejak itu ia menemukan sejumlah lokasi, yang membuatnya mantap berhenti mengajar.
Pada 2019, Deki berkomunikasi dengan ilustrator botani Universitas Oxford, Chris Thorogood. Dari percakapan sederhana tersebut, keduanya kemudian berkolaborasi sejak 2021, melakukan ekspedisi di hutan Bengkulu dan Sumatera. Bersama tim, mereka juga mendapati rafflesia bengkuluensis berkelopak tujuh pada 2022 serta kerabat rafflesia berukuran kecil, rizantes deceptor.
Informasi mengenai potensi mekarnya rafflesia hasseltii di Sijunjung pada November 2025 mendorong Deki merumuskan ekspedisi bersama Chris Thorogood, Iswandi dari LPHN Sumpur Kudus, dan Joko Witono dari BRIN. Perjalanan darat dari Bengkulu menuju lokasi memakan waktu lebih dari 20 jam, disambung trekking sekitar tiga jam melewati jalur terjal yang dikenal sebagai lintasan harimau.
Pada titik tertentu, Joko terpaksa kembali ke permukiman karena medan yang berat. Setelah memastikan rekannya aman, Deki kembali mendaki menyusul Chris dan Iswandi yang telah mendekati lokasi temuan.
Tiga jam pendakian membawa mereka ke lereng curam mendekati 90 derajat, tempat rafflesia hasseltii tampak mekar sebagian dengan satu kelopak terbuka. Tim menunggu sekitar dua jam hingga bunga tersebut mekar lebih sempurna pada malam hari. Penantian panjang membuat Deki tak kuasa menahan emosi. “Untuk pertama kali saya melihat hasseltii setelah 13 tahun. Emosional sekali,” katanya.
Ia menegaskan pentingnya etika dokumentasi, termasuk tidak menyentuh bunga. Menurutnya interaksi manusia mampu mempercepat kerusakan, terlebih masa mekar bunga ini sangat singkat, rata-rata tujuh hari dengan puncak dua hari.
Guru Besar Universitas Bengkulu, Prof. Agus Susatya, menyebut rafflesia hasseltii berstatus kritis (critical endangered) di alam liar. Ia menjelaskan populasinya kecil dan terfragmentasi, dengan jumlah kuncup di satu lokasi biasanya kurang dari 10. Banyak kuncup mati sebelum mekar sehingga risiko kepunahan meningkat.
“Kalau tidak ada proteksi habitat, rafflesia hasseltii dapat hilang,” ujarnya.
Penemuan yang dilakukan Deki menjadi penegas bahwa hutan Sumatera masih menyimpan puspa langka yang membutuhkan perlindungan. Bagi Deki, temuan ini menutup bab panjang pencarian sekaligus menjadi awal komitmen baru untuk memastikan rafflesia hasseltii tetap bertahan di habitat alaminya.















































