Menjaga Amanah Ulama dalam Perjalanan Nahdlatul Ulama

0
74
Nahdlatul Ulama. (Foto: Istimewa)

Spoiler.id – Nahdlatul Ulama (NU) lahir dari kesadaran para ulama yang memadukan kedalaman ilmu, keikhlasan pengabdian, dan keberanian moral dalam merespons tantangan zamannya. Organisasi ini tidak dibangun dari ruang hampa, melainkan dari denyut kehidupan umat dan tanggung jawab menjaga agama, masyarakat, serta tanah air.

Di Sulawesi Selatan, salah satu sosok yang tak terpisahkan dari sejarah tersebut adalah Syekh Jamaluddin Assegaf atau yang dikenal sebagai Puang Ramma. Ia merupakan salah satu muassis NU yang meletakkan dasar gerakan keagamaan dan sosial melalui keteladanan hidup, bukan sekadar melalui ujaran.

Puang Ramma berpesan bahwa “Nahdlatul Ulama dibangun oleh para ulama, maka lanjutkan perjuangan mereka dan jangan kecewakan mereka.” Pesan ini sederhana, namun memiliki bobot sejarah dan etika yang mendalam. NU, menurutnya, harus senantiasa menyadari asal-usulnya agar tidak tercerabut dari nilai-nilai yang membesarkannya.

Para ulama pendiri NU tidak membangun organisasi demi kekuasaan atau kepentingan sesaat. Mereka menjadikannya sebagai wasilah khidmah, jalan pengabdian untuk menjaga agama dan melayani umat. Dari semangat inilah NU tumbuh sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat.

Puang Ramma memahami bahwa kekuatan NU terletak pada integritas ulama yang menjadi penopang moral organisasi. Ulama tidak hanya berfungsi sebagai simbol, tetapi sebagai penjaga arah, penuntun nurani, serta penyeimbang antara semangat perubahan dan keteguhan tradisi. Tanpa peran tersebut, NU dinilai berisiko kehilangan ruhnya.

Pesan agar tidak mengecewakan para ulama pendiri juga merupakan pengingat akan amanah sejarah. Setiap langkah yang diambil oleh warga dan penggerak NU hari ini akan dinilai oleh sejarah, apakah tetap sejalan dengan cita-cita para muassis atau justru menyimpang dari jalan yang telah dibuka dengan pengorbanan.

Kecewa yang dimaksud Puang Ramma bukanlah emosi personal, melainkan kekecewaan nilai. Ketika NU menjauh dari kepentingan umat kecil atau ketika suara ulama terpinggirkan oleh kepentingan pragmatis, amanah tersebut dinilai mulai retak.

Melanjutkan perjuangan ulama berarti menjaga keseimbangan antara ilmu dan akhlak. Para muassis NU dikenal alim sekaligus tawadhu, tegas dalam prinsip namun lembut dalam pendekatan. Nilai ini diharapkan tetap hidup dalam sikap NU menghadapi dinamika zaman.

Pesan tersebut juga mengandung tuntutan kaderisasi berkelanjutan. Ulama tidak lahir secara instan, melainkan melalui tradisi keilmuan panjang, disiplin spiritual, dan kedekatan dengan masyarakat. NU yang setia pada pesan Puang Ramma adalah NU yang serius merawat pesantren, majelis taklim, serta tradisi keilmuan klasik.

Dalam konteks Sulawesi Selatan, peran Puang Ramma menunjukkan bahwa NU tumbuh melalui dialog dengan budaya lokal tanpa kehilangan prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah. Hal ini menjadi teladan bahwa melanjutkan perjuangan ulama bukan berarti membekukan tradisi, melainkan menghidupkannya secara kontekstual dan bermartabat.

Puang Ramma juga mengingatkan agar NU tidak direduksi menjadi sekadar alat legitimasi. Organisasi ini dibangun dengan keringat dan doa para ulama, sehingga setiap perannya harus selalu diukur dengan kemaslahatan umat.

Pesan tersebut menjadi jangkar moral di tengah perubahan zaman yang cepat. Modernisasi dapat berjalan, namun nilai dasar yang diwariskan para ulama harus tetap menjadi kompas utama dalam setiap keputusan.

Amanah Syekh Jamaluddin Assegaf Puang Ramma adalah pesan lintas generasi. NU hari ini merupakan hasil jerih payah ulama masa lalu, sementara NU masa depan bergantung pada kesetiaan generasi sekarang untuk melanjutkan perjuangan dengan kehormatan dan tanggung jawab moral.

Oleh: Oleh: Zaenuddin Endy, Koordinator LTN JATMAN Sulawesi Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here