Lonjakan Radikalisasi Remaja dan Pentingnya Budaya Literasi sebagai Benteng Gen-Z

0
65
Foto ilustrasi

Jakarta, Spoiler.id – Laporan Densus 88 Antiteror Polri menunjukkan meningkatnya keterlibatan remaja dalam jaringan terorisme. Sebanyak 110 anak usia 11–18 tahun tercatat terekrut kelompok ekstrem, sebagaimana diberitakan pada 18 November 2025. Fenomena ini menambah kekhawatiran setelah kasus ledakan bom yang dilakukan siswa SMA 72 Jakarta beberapa waktu lalu.

Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menunjukkan potensi radikalisasi pada generasi Z mencapai 10,4 persen berdasarkan Indeks Potensi Radikalisme tahun 2022. Angka tersebut lebih tinggi dibanding generasi milenial (10,3 persen) maupun generasi X (9,4 persen).

Humas Polri menjelaskan, anak muda rentan terpengaruh ekstremisme karena faktor psikologis dan lingkungan, seperti bullying, kondisi keluarga yang tidak stabil, pencarian identitas, minimnya perhatian orang tua, serta lemahnya literasi digital dan pemahaman agama. Media sosial menjadi ruang utama penyebaran gagasan ekstrem melalui konten video, meme, narasi emosional, dan pesan pribadi yang dirancang menyerupai pola grooming.

Generasi Z tumbuh di tengah arus informasi yang massif. Internet membuka ruang kreativitas, namun sekaligus menjadi pintu masuk bagi propaganda ekstremisme apabila tidak dibarengi kemampuan literasi yang memadai.

Salah satu penyebab kerentanan tersebut adalah rendahnya budaya literasi, baik literasi digital, informasi, maupun kritis. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan pemahaman, penilaian, serta kemampuan menyaring informasi. Ketika kemampuan ini lemah, generasi muda lebih mudah menerima propaganda atau narasi radikal tanpa proses verifikasi.

Budaya literasi menjadi benteng penting dalam mencegah radikalisasi. Literasi digital membantu memahami cara kerja algoritma, jejak digital, serta metode manipulasi di dunia maya. Literasi informasi membentuk kemampuan menilai kredibilitas sumber. Sementara literasi kritis mengajarkan analisis, refleksi, serta kemampuan mendeteksi bias. Ketiganya bekerja sebagai vaksin kognitif untuk menghalau ekstremisme.

Selain itu, literasi budaya dan toleransi juga penting untuk menumbuhkan sikap inklusif di tengah keberagaman masyarakat.

Sebagai upaya memperkuat ketahanan literasi, Muhammadiyah mengembangkan program Gerakan Literasi Muhammadiyah bertajuk MENTARI atau Muhammadiyah Membaca Setiap Hari. Program ini menempatkan literasi sebagai bagian dari pembentukan karakter dan penguatan pemahaman keagamaan di sekolah serta pesantren.

Kegiatan membaca dilakukan setiap hari sebelum pelajaran dimulai. Sejumlah siswa bahkan mampu menuntaskan puluhan buku dalam setahun. Pembiasaan ini meningkatkan fokus, memperkaya kosakata, dan memperkuat kemampuan memahami teks. Peningkatan literasi dasar tersebut berkontribusi langsung terhadap capaian akademik sekaligus membangun sikap pembelajar sepanjang hayat.

Program MENTARI juga memperkuat pemahaman keagamaan yang moderat dengan mendorong siswa membaca Al-Qur’an, tafsir, dan literatur Kemuhammadiyahan. Pemahaman agama yang literat membantu menghindarkan peserta didik dari penafsiran sempit dan mengurangi potensi terpengaruh ideologi intoleran. Di sejumlah sekolah, penerapan program ini berdampak pada menurunnya perilaku perundungan di lingkungan pendidikan.

Gerakan ini turut mengembangkan kemampuan berpikir kritis karena siswa terbiasa membaca beragam bacaan dan melihat suatu isu dari berbagai perspektif. Kemampuan tersebut sangat penting di era maraknya hoaks dan manipulasi informasi.

Selain itu, MENTARI memperkuat karakter melalui pembiasaan disiplin, ketekunan, dan kejujuran. Pemanfaatan perpustakaan digital dan e-book juga membantu siswa meningkatkan literasi digital secara bertahap.

Melalui program tersebut, sekolah dan pesantren Muhammadiyah tumbuh menjadi lingkungan berbudaya ilmu yang kondusif dan dialogis. Budaya ini mendorong perkembangan gagasan dan memperkuat identitas lembaga pendidikan sebagai pusat pencerahan.

Ancaman terorisme pada generasi Z merupakan tantangan nyata yang diperkuat oleh dinamika digital dan rendahnya literasi. Memperkuat literasi digital, informasi, kritis, serta literasi budaya dapat membangun ketahanan mental generasi muda dari propaganda ekstrem.

Budaya literasi bukan hanya sarana memperoleh pengetahuan, tetapi juga tembok pertahanan peradaban. Ketika generasi muda mampu membaca dunia secara kritis, propaganda kebencian kehilangan ruang untuk berkembang.

Oleh: Suherman, Analis Data Ilmiah BRIN, Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat ASEAN, Peraih medali emas CONSAL Award.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here