Seluma, Spoiler.id – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, merespons serius ambruknya ruang kelas SD Negeri 178 di Desa Pagar Agung.
Ketua Komisi I DPRD Seluma, Hendri Satrio, menyatakan pihaknya akan segera memanggil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) serta Kepala SDN 178 untuk klarifikasi, sebelum membahas anggaran pembangunan kembali.
“Kita akan panggil Dikbud dan kepala sekolah untuk klarifikasi. Setelah itu baru dibahas soal anggaran pembangunannya,” ujar Hendri, Jumat (27/6/2025).
Pernyataan ini menyusul adanya klaim Kepala SDN 178 bahwa DPRD tidak menyetujui usulan perbaikan ruang kelas tahun 2022. Namun menurut DPRD, usulan itu justru dicoret oleh Dikbud karena dianggap jumlah siswanya sedikit.
“Sebenarnya DPRD sudah siap anggarkan. Tapi usulan itu digugurkan oleh Dikbud saat pembahasan bersama Banggar,” jelas Hendri.
Hendri menegaskan bahwa Komisi I tetap berkomitmen memperjuangkan pembangunan ruang kelas demi kelangsungan proses belajar yang aman dan layak bagi siswa.
“Kondisinya memang sangat memprihatinkan. Kami akan perjuangkan agar segera dibangun kembali,” tegasnya.
KBM Tetap Berjalan Meski Darurat
Kepala Dikbud Seluma, Munawarman, mengatakan pihaknya telah meninjau langsung kondisi SDN 178 usai robohnya bangunan. Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar (KBM) dipindahkan ke rumah dinas guru yang masih layak digunakan.
“Kami pastikan proses belajar tetap berjalan maksimal meski tidak ideal,” ujar Munawarman.
Ia menambahkan, seluruh ruang kelas ambruk dan tidak bisa difungsikan karena membahayakan keselamatan siswa dan guru. Usulan perbaikan akan segera diajukan kepada Bupati Seluma untuk ditindaklanjuti.
“Tahun ini kita ajukan, agar bisa diperbaiki tahun depan,” jelasnya.
Bangunan Rusak Sejak 2007
Kondisi kerusakan SDN 178 bukan hal baru. Kepala Sekolah, Yudi Wahyu Hidayat, menyampaikan bahwa kerusakan tiga ruang kelas sudah terjadi sejak 2007 dan makin parah dalam lima tahun terakhir.
“Sudah lima tahun kami tetap mengajar di ruang rusak dengan kondisi plafon jebol, dinding retak, hingga akhirnya roboh,” tutur Yudi.
Kini, dengan hanya 15 siswa, proses belajar terpaksa berlangsung di bawah pohon dan rumah dinas. Pengajuan rehabilitasi terus ditolak dengan alasan jumlah siswa terlalu sedikit.
Upaya penggabungan dengan SD terdekat di Desa Muara Simpur pun gagal karena alasan keselamatan. Siswa harus menyeberangi jembatan gantung sepanjang 100 meter setiap hari, yang membuat orang tua khawatir.
“Kalau memang sekolah tidak bisa diperbaiki, paling tidak jembatannya yang diperkuat agar siswa bisa sekolah dengan aman,” harap Yudi.
Potret Kesenjangan Pendidikan
Kondisi SDN 178 menggambarkan nyata kesenjangan akses pendidikan di daerah terpencil. Dengan tujuh guru dan satu kepala sekolah yang masih bertahan di tengah keterbatasan, perhatian dan langkah nyata dari pemerintah sangat dibutuhkan agar hak pendidikan anak-anak terpenuhi secara layak.
Pewarta: Agusian
Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © SPOILER 2025















































