Kesadaran Rendah, Bangsa Sulit Maju

0
86
KH. Khariri Makmun. (Foto Dok. ANTARA)

Jakarta, Spoiler.id – Pertanyaan mendasar yang masih relevan hingga hari ini adalah: mengapa Indonesia sulit maju? Jawabannya, menurut banyak pengamat dan ulama klasik, terletak pada rendahnya kesadaran pejabat publik yang lebih sering menggunakan jabatan sebagai alat mempertahankan kekuasaan, bukan sebagai amanah untuk melayani rakyat.

Fenomena ini dapat terlihat dari praktik politik transaksional di parlemen, korupsi di jajaran kementerian, kompromi presiden terhadap oligarki, hingga birokrasi yang kerap menghambat pelayanan publik. “Kekuasaan sering kali dijadikan ajang survival untuk memperkaya diri, memperkuat dinasti politik, dan memperbesar jaringan kroni,” tulis penulis opini KH. Khariri Makmun.

David R. Hawkins dalam bukunya Power vs Force menjelaskan skala kesadaran manusia, mulai dari level terendah seperti rasa takut dan amarah, hingga level tertinggi berupa cinta dan pencerahan. Jika pejabat publik beroperasi di bawah level 200, kekuasaan hanya dijadikan alat kepentingan diri sendiri, bukan pengabdian.

Ulama klasik juga telah memberi peringatan. Al-Mawardi menegaskan pemimpin sejati harus memiliki integritas moral (al-‘adalah) dan kapasitas teknis (al-kafa’ah). Sementara Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menyebut keruntuhan peradaban bermula dari pemimpin yang hanya mengejar kemewahan dan harta.

“Indonesia hari ini terjebak dalam lingkaran oligarki elektoral. Demokrasi kita berjalan sebatas prosedural, substansinya dikuasai pemilik modal,” tulis Khariri, mengutip pengamat politik Jeffrey Winters.

Untuk keluar dari jerat tersebut, Indonesia membutuhkan pemimpin dengan kesadaran tinggi, minimal pada level 500 menurut Hawkins—yakni pemimpin yang hidup dengan cinta, welas asih, integritas, dan kebijaksanaan.

Ada empat jalan yang dapat ditempuh: pertama, pendidikan politik harus diarahkan pada pembangunan kesadaran; kedua, partai politik harus direformasi agar tidak dikuasai oligarki; ketiga, seleksi pejabat publik harus menguji integritas spiritual, bukan sekadar kompetensi teknis; dan keempat, rakyat harus cerdas memilih.

“Ibn Khaldun pernah menulis: sebuah negara berdiri karena solidaritas dan runtuh karena ketidakadilan. Jika terus dipimpin orang dengan kesadaran rendah, Indonesia hanya akan menjadi ladang oligarki. Namun bila lahir generasi pemimpin tercerahkan, Indonesia bisa benar-benar menjadi mercusuar dunia,” pungkas Khariri.

Oleh: KH. Khariri Makmun

Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © SPOILER 2025

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here