Oleh: Vox Populi Vox Dei
Spoiler.id – Di tengah geliat rencana pembukaan tambang emas di kawasan Bukit Sanggul, Kabupaten Seluma, gelombang penolakan datang dari berbagai arah. Dua tokoh lingkungan Bengkulu, Sahipul Anwar, Direktur Green Sumatra, dan Aurego Jaya, Sekretaris DPW LIRA Provinsi Bengkulu, kompak menyatakan sikap tegas: menolak tambang emas di Bukit Sanggul.
Bagi mereka, rencana ini bukan jalan menuju kemakmuran, melainkan ancaman besar terhadap kelestarian lingkungan, sumber air bersih, serta masa depan masyarakat Seluma. Di balik janji investasi dan kesejahteraan, tersimpan kekhawatiran akan terulangnya jejak pahit eksploitasi alam yang telah menghancurkan banyak wilayah di Bengkulu sebelumnya.
Kabupaten Seluma, salah satu daerah di Provinsi Bengkulu yang dikenal dengan kekayaan alam dan keindahan bentang alamnya, kini dihadapkan pada dilema serius. Bagi sebagian pihak, proyek tambang emas di Bukit Sanggul dianggap peluang besar. Namun bagi pemerhati lingkungan, langkah ini justru terlihat sebagai bencana ekologis yang sedang menunggu untuk terjadi.
Suara Tegas dari Sahipul Anwar
Sebagai putra daerah Seluma dan Direktur Green Sumatra, Sahipul Anwar, S.H., menegaskan penolakannya.
“Bukit Sanggul bukan sekadar kawasan berbukit dengan potensi mineral, tetapi bagian penting dari ekosistem Seluma. Di sanalah sumber air mengalir, habitat flora dan fauna hidup, serta masyarakat sekitar menggantungkan hidup dari hasil hutan dan pertanian,” ujarnya.
Ia menilai, bila tambang emas benar-benar dibuka, dampaknya akan terasa jauh hingga ke wilayah hilir — mencemari sungai, merusak lahan pertanian, dan mengancam sumber air bersih yang menjadi penopang kehidupan ribuan warga.
Belajar dari Luka Tambang di Bengkulu
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Pengalaman di Bengkulu Tengah dan Bengkulu Utara membuktikan bahwa janji kemakmuran dari sektor tambang sering kali hanya fatamorgana. Hutan digunduli, sungai tercemar, jalan rusak, dan konflik sosial tak terhindarkan.
Sementara itu, hasil kekayaan alam justru mengalir ke kantong segelintir pihak. Kasus-kasus korupsi yang pernah ditangani Kejaksaan Tinggi Bengkulu menjadi bukti bahwa praktik pertambangan di provinsi ini belum pernah benar-benar berpihak pada rakyat.
LIRA Bengkulu Angkat Suara
Sikap tegas juga datang dari Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Provinsi Bengkulu. Dalam konferensi pers, Sekretaris DPW LIRA Bengkulu, Aurego Jaya, menyatakan penolakannya terhadap proyek tambang emas di Bukit Sanggul.
“Saya dengan tegas menolak rencana pembukaan tambang emas di Bukit Sanggul. Ini adalah bagian penting dari ekosistem dan warisan budaya Kabupaten Seluma. Kehadiran tambang akan merusak lingkungan, mengancam sumber air bersih, serta menghancurkan keanekaragaman hayati,” ujar Aurego.
Menurutnya, Bukit Sanggul memiliki fungsi vital sebagai daerah resapan air yang menopang kehidupan masyarakat sekitar. Aktivitas pertambangan berpotensi menimbulkan deforestasi, pencemaran air, dan tanah longsor — bencana ekologis yang akan berdampak langsung pada rakyat kecil.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahaya konflik sosial dan perebutan lahan, yang sering kali menjadi dampak tak terhindarkan dari proyek-proyek tambang berskala besar.
“Kami tidak ingin Bukit Sanggul menjadi sumber masalah baru bagi masyarakat Seluma. Kami mendesak pemerintah untuk meninjau ulang rencana ini dan lebih mengutamakan keberlanjutan lingkungan daripada kepentingan ekonomi sesaat,” tegasnya.
Antara Emas dan Kehidupan
Pertanyaan besar pun mengemuka: “Seluma Emas untuk siapa?”
Apakah emas itu benar-benar untuk rakyat Seluma yang menggantungkan hidup pada alam?
Ataukah emas itu hanya akan memperkaya segelintir investor dan elite politik?
Seluma harus belajar dari sejarah. Pembangunan daerah tidak boleh lagi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam yang merusak dan tidak berkelanjutan. Potensi besar Seluma justru terletak pada kekayaan hayati, budaya, dan sumber daya manusianya.
Kawasan Bukit Sanggul bisa dikembangkan menjadi destinasi ekowisata dan edukasi lingkungan, membuka lapangan kerja tanpa menghancurkan alam. Dengan paradigma ekonomi hijau, kesejahteraan dan kelestarian dapat berjalan seiring.
Seruan Bersatu: Selamatkan Bukit Sanggul
Kini saatnya masyarakat Seluma bersatu menjaga tanah kelahiran.
“Mari kita katakan dengan lantang: Tidak untuk tambang emas di Bukit Sanggul!”
Nilai ekologis Bukit Sanggul jauh lebih berharga daripada keuntungan sesaat dari hasil tambang yang akan habis dalam sekejap. Pemerintah daerah dan pusat diminta berpikir lebih bijak, agar kebijakan pembangunan tidak menjadi vonis bagi masa depan generasi mendatang.
Seluma tidak boleh kehilangan jati dirinya hanya demi sebutir emas.
Biarlah Bukit Sanggul tetap berdiri megah — bukan sebagai tambang, tetapi sebagai simbol kehidupan, sumber air, dan harapan bagi masyarakat Seluma yang mencintai alamnya
















































