
Jakarta, Spoiler.id – Presiden Prabowo Subianto menghadiri hari pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 di Rio de Janeiro, Brasil, Minggu (6/8/2025). Kehadiran ini menandai kali pertama Indonesia berpartisipasi sebagai anggota penuh BRICS, setelah resmi diterima sebagai anggota ke‑11.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan optimisme Presiden terhadap keanggotaan baru tersebut.
“Presiden Prabowo optimistis keikutsertaan Indonesia dalam BRICS akan memperkuat posisi Indonesia di kancah global, serta menekankan pentingnya kerja sama antarnegara untuk mendukung stabilitas dan kemakmuran dunia,” ujar Teddy di Rio de Janeiro.
Teddy mengungkapkan, langkah bergabung dengan BRICS merupakan inisiatif langsung Presiden Prabowo pada tahun pertama masa jabatannya. Proposal Indonesia diterima secara aklamasi oleh seluruh anggota, melengkapi formasi BRICS yang kini terdiri atas Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Etiopia, Iran, dan Indonesia.
“Masuknya Indonesia ke BRICS adalah wujud prinsip Presiden—seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak—yang menekankan perluasan jejaring persahabatan demi perdamaian dan kemakmuran global,” tambah Teddy.
Dengan bergabungnya Indonesia, BRICS kini merepresentasikan 50 persen populasi dunia dan 35 persen Produk Domestik Bruto (PDB) global. Pemerintah menilai blok ekonomi ini akan membuka peluang diversifikasi perdagangan, akses pembiayaan alternatif, serta transfer teknologi bagi Indonesia.
Dalam sesi pembuka KTT, Presiden Prabowo dijadwalkan menyampaikan pidato tentang penguatan arsitektur ketahanan pangan dan kolaborasi industri pertahanan di antara negara anggota.
Pemerintah menargetkan tiga hasil awal dari keanggotaan penuh: perluasan pasar ekspor komoditas strategis, penguatan investasi energi hijau, dan kolaborasi riset kesehatan. Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Keuangan telah menyiapkan peta jalan integrasi kebijakan dengan platform BRICS New Development Bank (NDB).
Pengamat hubungan internasional Universitas Indonesia, Dr. Retno Nuraini, menilai langkah ini strategis.
“Keanggotaan di BRICS memberi Indonesia kursi di meja perundingan ekonomi global non‑Barat sekaligus memperluas opsi pendanaan infrastruktur tanpa menambah beban utang konvensional,” jelasnya.
Pemerintah menegaskan sinergi dengan ASEAN tetap menjadi prioritas, sementara BRICS diposisikan sebagai “jalur cepat” untuk diversifikasi mitra ekonomi.
Pewarta: Syafri Yantoni
Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © SPOILER 2025















































