Bengkulu, Spoiler.id — Pemerintah Kota Bengkulu mendorong keterlibatan dunia akademik dalam mendukung pembangunan sekaligus memperkuat potensi daerah melalui kajian dan gagasan yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.
Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui peluncuran buku berjudul “Ekosistem City Branding Partisipatif: Orkestrasi Potensi Wisata, Budaya, dan Lanskap Digital Kota Bengkulu” di Balai Kota Merah Putih, Kota Bengkulu.
Buku tersebut diluncurkan Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi bersama mahasiswa Program Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) Universitas Bengkulu pada Senin pagi.
Buku itu merupakan karya kolaboratif 26 mahasiswa Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu angkatan 2025. Karya tersebut mengangkat berbagai potensi Kota Bengkulu melalui perspektif ilmu komunikasi, khususnya dalam membangun dan memperkuat citra kota.
Dedy Wahyudi mengapresiasi lahirnya buku yang memuat gagasan dan kajian mengenai potensi daerah tersebut. Menurut dia, hasil kajian mahasiswa dapat menjadi salah satu masukan bagi pemerintah dalam menyusun dan mengembangkan program pembangunan, termasuk sektor pariwisata.
“Kami sangat mengapresiasi karya dari mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu ini. Mudah-mudahan ke depan ide dan gagasan dari dunia kampus bisa terus memberikan kontribusi dan mendukung kemajuan Kota Bengkulu, termasuk dalam mengembangkan pariwisata,” ujar Dedy.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi penting untuk menghasilkan berbagai gagasan yang dapat membantu mengenalkan potensi Kota Bengkulu secara lebih luas.
Sementara itu, dosen pengampu Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu, Gushevinalti, mengatakan buku tersebut membahas sejumlah potensi lokal Kota Bengkulu yang dikaji dari perspektif komunikasi.
Pembahasan di dalamnya mencakup potensi wisata, kekayaan budaya, identitas lokal, hingga perkembangan media dan ruang digital yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat citra Kota Bengkulu.
Gushevinalti menjelaskan konsep city branding yang ditawarkan dalam buku tersebut tidak semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah. Pembentukan dan penguatan identitas kota juga membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat.
“City branding itu bukan hanya menjadi tugas pemerintah. Masyarakat, pelaku usaha, komunitas, akademisi, hingga pengguna media digital juga memiliki peran dalam membentuk dan memperkuat identitas Kota Bengkulu,” ungkap Gushevinalti.
Melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, dan pemanfaatan ruang digital, pengembangan city branding diharapkan dapat menjadi salah satu strategi untuk memperkuat daya tarik Kota Bengkulu sekaligus memperkenalkan potensi wisata dan budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Pewarta: Restu Edi
Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © SPOILER 2026

















































