Dedy Wahyudi Apresiasi Inovasi Manunggal Lestari Olah Sampah Jadi Pakan Lele

0
8

Bengkulu, Spoiler.id — Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi mengapresiasi inovasi Gerakan Masyarakat Peduli Sampah Manunggal Lestari dalam mengolah sampah organik menjadi maggot yang dimanfaatkan sebagai pakan budidaya ikan lele.

Apresiasi tersebut disampaikan Dedy saat menghadiri Syukuran Gerakan Masyarakat Peduli Sampah Manunggal Lestari sekaligus Tebar Benih Lele Perdana di Divisi Usaha Produktif Berbasis Pengolahan Sampah (UPBPS) Manunggal Lestari, Kelurahan Kebun Tebeng, Kamis (17/9/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Asisten III Setda Kota Bengkulu Tony Elfian, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Anshar Amin, Camat Ratu Agung Subhan Gusti Hendri, Kapolsek Ratu Agung, serta Lurah Kebun Tebeng Hendriyanto.

Dedy mengatakan inovasi pengolahan sampah menjadi maggot yang telah berjalan selama satu tahun tersebut merupakan terobosan yang perlu diapresiasi dan dikembangkan.

“Saya orangnya mudah memberikan apresiasi, dan ketika ada yang berprestasi, saya memberikan apresiasi dan menyatakan ‘salut’. Terima kasih atas terobosan pembuatan maggot ini. Memang saya sudah menyampaikan kepada seluruh lurah bahwa pada tahun 2026 ini dana kelurahan kita arahkan untuk kegiatan persampahan,” ujar Dedy.

Menurut Dedy, Kelurahan Kebun Tebeng menjadi salah satu pelopor dalam menjalankan arahan pemanfaatan dana kelurahan untuk kegiatan pengelolaan sampah.

Ia meminta Kecamatan Ratu Agung menjadikan program pengelolaan sampah terpadu di Kebun Tebeng sebagai percontohan yang dapat diterapkan di wilayah lainnya.

Jika program tersebut berhasil, Dedy mengatakan seluruh lurah di Kota Bengkulu akan diundang untuk belajar mengenai pengelolaan sampah di Kebun Tebeng sehingga tidak perlu mencari contoh pengelolaan serupa hingga ke Pulau Jawa.

Sementara itu, Lurah Kebun Tebeng Hendriyanto menjelaskan Gerakan Masyarakat Manunggal Lestari dibentuk untuk mendukung program kebersihan lingkungan Pemerintah Kota Bengkulu.

Gerakan tersebut memiliki sejumlah divisi, di antaranya bank sampah, rumah kompos, rumah bibit, kerajinan warga, hingga pemanfaatan pekarangan.

Menurut Hendriyanto, pengelolaan dimulai dari sampah rumah tangga warga Kelurahan Kebun Tebeng. Sampah organik yang dikumpulkan kemudian dimanfaatkan sebagai bahan budidaya maggot.

Maggot yang dihasilkan selanjutnya dimanfaatkan sebagai pakan utama dalam budidaya ikan lele sehingga sampah organik memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi limbah yang dibuang.

“Hulunya berasal dari sampah rumah tangga warga Kelurahan Kebun Tebeng. Sampah organik yang dikumpulkan dimanfaatkan untuk budidaya maggot, yang selanjutnya menjadi pakan utama budidaya lele,” jelas Hendriyanto.

Ia mengatakan optimalisasi Dana Kelurahan dalam pengelolaan sampah terpadu diharapkan dapat membantu mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Sebakul.

Sampah organik, kata dia, merupakan salah satu bagian besar dari limbah rumah tangga yang memiliki potensi ekonomi apabila dikelola secara tepat.

“Sampah sesungguhnya merupakan sumber rupiah, sesuai slogan kawan-kawan Manunggal Lestari: Sampah Sumber Rupiah,” tambahnya.

Rangkaian kegiatan tersebut ditutup dengan pelepasan secara simbolis 3.000 ekor benih lele oleh Wali Kota Bengkulu.

Jumlah tersebut menambah 3.000 ekor benih lele yang sebelumnya telah ditebar pada tahap awal pengembangan program budidaya ikan berbasis pengolahan sampah di Kelurahan Kebun Tebeng.

Pewarta: Restu Edi
Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © SPOILER 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here