Bengkulu, Spoiler.id — Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa (BEM KBM) Universitas Bengkulu menggelar aksi spontanitas bertajuk “Bengkulu Menolak Diam: Unib Sadar” di kawasan Bundaran Fatmawati, Simpang Lima Ratu Samban, Kota Bengkulu, Sabtu (31/10/2026).
Aksi yang dimulai sekitar pukul 16.30 WIB itu diikuti sekitar 30 mahasiswa. Mereka menyampaikan aspirasi terkait sejumlah persoalan publik, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kebijakan pemerintah, pendidikan, hingga penegakan hukum.
Dalam orasinya, mahasiswa menyampaikan keprihatinan terhadap karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Mereka juga menyoroti dampak asap yang disebut mulai dirasakan masyarakat Bengkulu.
Koordinator lapangan aksi, Hafizh Zikri Hamidi, mengatakan kerusakan hutan dan kebakaran lahan tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa karena berdampak terhadap lingkungan, kesehatan, dan keselamatan masyarakat.
Ia mendesak negara hadir untuk memastikan penanganan karhutla berjalan maksimal, termasuk menindak pihak-pihak yang terbukti bertanggung jawab atas kebakaran tersebut.
“Negara seharusnya hadir untuk memproses pihak-pihak yang melakukan pembakaran hutan, baik di Kalimantan maupun sejumlah wilayah lainnya di Indonesia. Kami melihat persoalan ini bukan hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan dan keselamatan masyarakat,” ujar Hafizh.
Sebagai bentuk aksi simbolik, sekitar pukul 17.35 WIB, para mahasiswa mengenakan masker secara bersama-sama. Aksi tersebut menggambarkan kekhawatiran terhadap paparan asap karhutla yang dapat berdampak terhadap masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.
Sekitar pukul 17.45 WIB, massa kemudian bergerak menuju Bundaran Fatmawati untuk membacakan pernyataan sikap. Dalam tuntutannya, mahasiswa meminta pemerintah bertanggung jawab terhadap bencana ekologis, menetapkan status bencana nasional untuk karhutla, menegakkan hukum terhadap korporasi yang terbukti bertanggung jawab, serta melakukan pemulihan lingkungan secara menyeluruh.
Selain isu lingkungan, mahasiswa menyoroti pengelolaan anggaran negara dan pelaksanaan sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Mereka meminta pemerintah mengevaluasi pelaksanaan program tersebut dengan memperhatikan aspek transparansi, efektivitas, dan kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat.
Di bidang pendidikan dan kesejahteraan, mahasiswa mendesak pemenuhan hak masyarakat untuk memperoleh pendidikan terjangkau, layanan dasar yang merata, serta lapangan pekerjaan yang layak. Mereka juga meminta pemerintah memperhatikan beban biaya pendidikan agar akses pendidikan dapat dinikmati secara lebih adil oleh seluruh lapisan masyarakat.
Tuntutan lainnya menyangkut penegakan hukum yang independen, transparan, dan berkeadilan, termasuk pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mahasiswa turut menyuarakan perlindungan kebebasan sipil, demokrasi, dan hak asasi manusia, serta menolak pembatasan kebebasan berpendapat dan militerisasi yang dinilai melampaui kewenangan di ruang sipil.
Presiden BEM Universitas Bengkulu M. Ghifar Alfarizsy bersama koordinator lapangan dan peserta aksi menegaskan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam mengawasi berbagai persoalan publik.
Mereka berharap aksi spontanitas tersebut menjadi pengingat bagi pemerintah agar aspirasi masyarakat didengar dan ditindaklanjuti melalui kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Pewarta: Restu Edi
Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © SPOILER 2026

















































