Balai Bahasa Bengkulu Luncurkan 53 Buku Cerita Anak untuk Lestarikan Bahasa Daerah

0
7

Bengkulu, Spoiler.id — Balai Bahasa Provinsi Bengkulu meluncurkan 53 buku cerita anak berbahasa daerah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penerbitan buku tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat literasi anak sekaligus menjaga keberlangsungan bahasa daerah, termasuk bahasa Enggano yang terancam punah akibat berkurangnya jumlah penutur.

Peluncuran produk penerjemahan itu dirangkaikan dengan kegiatan Anugerah Karsa Bahasa dan Diseminasi Produk Penerjemahan. Dalam kesempatan tersebut, Balai Bahasa Provinsi Bengkulu juga memberikan penghargaan kepada individu, lembaga, tokoh, dan komunitas yang dinilai berkontribusi dalam pengembangan bahasa, sastra, dan literasi.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Bengkulu Andriana Yohan, S.S., M.A., mengatakan Anugerah Karsa Bahasa merupakan bentuk penghargaan kepada berbagai pihak yang selama ini mendukung program kebahasaan, kesastraan, dan literasi.

“Pada hari ini, kami memberikan apresiasi kepada individu, lembaga, tokoh, dan komunitas yang memiliki kepedulian serta kontribusi positif terhadap program-program yang telah kami laksanakan,” ujar Andriana.

Selain pemberian penghargaan, peluncuran 53 buku hasil penerjemahan menjadi agenda utama kegiatan tersebut. Buku-buku itu merupakan karya penulis terpilih yang menyusun cerita anak menggunakan bahasa daerah, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Andriana menjelaskan, jumlah buku yang diluncurkan melampaui target awal sebanyak 22 judul. Hal itu terjadi karena tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti program penulisan cerita anak berbahasa daerah.

Menurut dia, penerbitan buku cerita anak tersebut tidak hanya bertujuan menambah ketersediaan bahan bacaan, tetapi juga memperkenalkan bahasa daerah kepada generasi muda sejak dini.

“Ketika anak-anak membaca buku-buku ini, mereka akan semakin dekat dengan bahasa daerahnya dan diharapkan tumbuh kecintaan untuk menggunakan serta melestarikannya,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Andriana turut menyoroti kondisi bahasa Enggano yang membutuhkan perhatian serius. Bahasa yang digunakan masyarakat di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, tersebut menghadapi ancaman kepunahan seiring semakin berkurangnya jumlah penutur.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat upaya pelestarian bahasa Enggano.

Penerbitan cerita anak berbahasa daerah diharapkan dapat menjadi salah satu sarana memperkenalkan bahasa ibu kepada generasi muda. Selain itu, dokumentasi melalui karya tulis dan penerjemahan dapat membantu menjaga kekayaan bahasa daerah agar tetap dikenal dan dipelajari lintas generasi.

Melalui peluncuran 53 buku tersebut, Balai Bahasa Provinsi Bengkulu mendorong keterlibatan masyarakat dalam mengembangkan literasi sekaligus merawat keberagaman bahasa dan sastra daerah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here